SELAMAT DATANG!

Welcome To My Blog
Powered By Blogger

Senin, 06 Desember 2010

Kenangan Terakhirku Gengannya

Tililit…. Tililit…. Tililit…. Tililit…. Tililit…. Tililit….Dengan malas Rahmi menggerakkan tangannya. Ia berusaha meraih handphone yang terletak di atas meja tepat di sebelah tempat tidur dengan mata masih terpejam. “Ha..lo …”, sahut Rahmi dengan perlahan setelah memencet salah satu tombol handphone. “Ya ampun Mi! Lu baru bangun ya?” Tanya Serani. “Yaaaa, ada apa sih Mi?” sahut Rahmi dengan mata masih mengantuk. “Tumben banget lu kesiangan? Emang semalam lu begadang ya?” tanya Rara lagi. “Iya nyelesain paper yang disuruh Bu Tias.
Weker gue rusak, makanya telat bangun,” jelas Rahmi perlahan. “Ohhhh….gitu, ya udah! Sekarang lu mandi dan cepat-cepat kemari ada kabar penting!” perintah Serani. “Kabar apaan sih Ni?” tanya Rahmi dengan malas karena merasa tidak akan tertarik dengan kabar dari sahabatnya itu. “Hari ini Rezqi masuk sekolah Mi!” kata Serani dengan tegas. Rahmi yang sedari tadi tiduran dan memejamkan mata, sontak kaget dan langsung duduk dengan membelalakkan matanya. “Serius Ni?” tanya Rahmi karena masih ragu dengan Serani. “Gue gak becanda! Makanya buruan lu kemari,” katanya mencoba meyakinkan. “Ya udah tunggu gue,” jawab Rahmi dan kemudian meletakkan handphone-nya di atas meja. Dia bergegas mandi dan bersiap-siap ke sekolah.
Dalam perjalanan Rahmi terlihat gelisah. Pikirannya bercampur aduk antara senang dan tidak. Pak supir yang sedari tadi mengamati Rahmi merasa heran. Rahmi memang sudah sangat merindukan sang pacar Rezqi, tapi ia juga membencinya. Karena sudah tiga bulan terakhir ini Rezqi tak masuk sekolah. Rezqi juga tak pernah memberikan kabar. Dan saat Rahmi mendatangi rumah Rezqi, pembantunya tak mau memberikan informasi tentang Rezqi.
Sahabat dan teman dekat Rezqi sudah ditanyai Rahmi, tapi tak satu pun yang tahu. Sedangkan wali kelas dan guru-guru tidak mau memberitahukan apapun tentang Rezqi, padahal mereka sebenarnya tahu segalanya. Bulan pertama dan kedua Rahmi seakan tak terima dengan kehilangan Rezqi yang tiba-tiba. Namun di bulan ketiga ia mulai berangsur pasrah. Mobil yang dikendarai pak sopir berhenti tepat di depan gerbang sekolah, tanpa mengucapkan apa-apa Rahmi bergegas keluar dari mobil dan berlari ke arah kelas. Pak sopir hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepala. Saat tiba di kelas Rahmi langsung menghampiri Serani. “Ni! Lu serius dengan yang tadi kan?” tanya Rahmi meminta penjelasan Serani. “Iya Mi! tadi Rezqi datang kemari dan nyariin lu,” jawab Serani. “Trus lu ngomong apa sama dia?” “Ya gue bilang aja lu belum datang. Terus dia pergi dan dia balik ke kelasnya,” jelas Rara. “Berarti dia masuk sekolah lagi dong?” tanya Rona lagi dijawab dengan anggukan oleh Serani. “Jadi selama ini dia ke mana ya? Lu nggak tanya sama dia Ni?” “Nggak, gue ngerasa canggung aja udah lama nggak ketemu dia,” jelas Serani. Mereka berdua pun terdiam dan merasa heran. Namun Rahmi nggak mau terburu-buru untuk mendatangi Rezqi.
Dia merasa bahwa Rezqi yang bersalah dan harus menemuinya terlebih dahulu untuk memberikan penjelasan tentang hubungan mereka. Rahmi menunggu dengan gelisah, sampai bel masuk pun berbunyi dan Rezqi belum datang. Kemudian pada jam istirahat Rahmi memutuskan tidak ikut Serani ke kantin. Karena Rahmi berfikir Rezqi akan datang kembali menemuinya. Namun untuk kedua kalinya Rahmi salah menduga. “Rezqi belum kemari Mi?” tanya Serani yang sudah kambali dari kantin dengan dua buah minuman di tangannya. “Belum Ni.,” menggelengkan kepala dengan wajah kecewa.
“Kenapa ya?” Serani merasa heran diikuti gelengan kepala Rahmi yang menandakan juga heran. ”Tapi lu tenang aja Mi, gue yakin nanti pulang sekolah dia pasti nemuin lu,” kata Serani dengan tegas. Dan ternyata dugaan Serani benar. Rezqi sudah berada tepat di depan pintu kelas menunggu. Rahmi berdiri terpaku, bibirnya terasa beku. Sedangkan Rezqi juga terlihat sangat gugup, seakan tidak siap bertemu Rahmi. Namun kerinduannya yang besar kepada Rahmi mengalahkan ketidaksiapannya.
Serani tidak ingin mengganggu percakapan sahabatnya itu, ia tahu banyak hal yang pasti akan mereka bicarakan. Sehingga Rara memutuskan pulang duluan. “Hai Ra,” sapa Rezqi dengan lembut. “Hai…,” jawab Rahmi singkat. “Apa kabar?” Tanya Rezqi. “Baik, kamu?” Rahmi menjawab pelan. “Lumayan,” jawab Rezqi “Aku antar kamu pulang ya? Sekalian ada yang mau aku omongin”, sambung Rezqi. Rahmi mengangguk.
Mereka pun pergi meninggalkan sekolah dengan mengendarai motor yang dibawa Rezqi. Selama di jalan mereka hanya terdiam, tidak seperti suasana dulu yang begitu dihiasi dengan canda. Rezqi membawa Rahmi ke sebuah taman di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu berdua. Setelah turun dari motor mereka berdua duduk di kursi yang ada di tengah taman. “Aku mau minta maaf sama kamu Ra, karena selama ini aku nggak ngasih kabar ke kamu,” Rezqi berusaha memulai pembicaraan. “Kamu sebenarnya ke mana sih? Kamu tahu nggak, aku udah nyariin kamu ke mana-mana,” Rahmi merasa tidak tahan lagi menyembunyikan perasaannya. “A….ku, sakit Ra!” jawab Rezqi dengan sangat lambat. “Sakit?” Rahmi merasa jawaban Rezqi bukanlah hal yang aneh tetapi dia justru heran mengapa hal itu harus disembunyikan darinya. “Tapi kenapa kamu nggak ngasih tau aku, aku kan pacar kamu jadi aku bisa ngerawat kamu.” “Aku tahu Ra, tapi ini nggak segampang itu.” “Maksud kamu?” Rahmi semakin terlihat bingung dengan perkataan Rezqi yang nggak jelas. Rezqi terdiam, mukanya terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rahmi. “Qi? Kenapa kamu diam? Maksud kamu apa?” Rahmi mengguncang badan Rezqi, memaksa Rezqi menjelaskan semuanya. 
Rahmi merasa sudah cukup untuk bingung selama tiga bulan ini. Sehingga dia tidak ingin menunda lagi mengetahui apa yang terjadi. “Aku…aku…aku menderita kanker stadium akhir Ra,” jelas Rezqi dengan perlahan. “Apa?” Rahmi terlihat sangat terkejut, ia benar-benar nggak menyangka penjelasan Rezqi akan seserius itu.
“Selama tiga bulan ini aku menghilang, karena mama membawa aku ke Singapura untuk menjalani perawatan. Di sana aku terapi dan aku sempat kritis Ra,” Rezqi melanjutkan penjelasannya. ”Sekarang aku hanya punya waktu seminggu, setelah itu aku harus balik ke Singapura untuk perawatan selanjutnya.
” “Ya ampun Rezqi….kenapa kamu nggak ngasih tahu aku?” keluh Rahmi dan air mata terlihat jatuh di pipinya yang halus. “Aku takut setelah mendengar semuanya kamu ninggalin aku. Aku kangen banget sama kamu dan aku takut kehilangan kamu Ra.” Rezqi menutup mukanya dengan tangan. Ia menangis layaknya seorang anak kecil.
Melihat kesedihan pacarnya itu hati Rahmi hancur. Rahmi meraih tangan Rezqi dan memegangnya erat-erat. “Aku cinta sama kamu, dan aku cinta kamu apa adanya, aku nggak bakalan ninggalin kamu,” ujar Rahmi sambil menatap Rezqi. “Aku bakal nunggu kamu, sampai kamu sembuh.” “Tapi penyakitku semakin parah Ra, aku nggak tahu kapan bisa balik lagi. Entah itu tiga minggu, tiga bulan, atau mungkin tiga tahun lagi,” tambah Rezqi dengan air mata yang terus mengalir.
“Aku nggak peduli, aku bakal nungguin kamu. Asal kamu janji berusaha untuk sembuh demi aku,” tambah Rahmi. Rezqi terharu dengan perkataan Rahmi. Ia merasa semangat hidupnya kembali lagi. “Aku janji sama kamu, aku akan berusaha untuk sembuh.” Rezqi langsung memeluk Rahmi dengan erat.
Sudah lama pelukan hangat itu tidak mereka rasakan. Mereka larut dalam kebersamaan itu. Sejenak mereka melupakan semua kesedihan yang ada. Walaupun sebenarnya Rahmi tahu semua itu tidak akan mudah nantinya. Tapi ia hanya ingin memberikan semangat penuh untuk Rezqi, karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Seminggu sebelum keberangkatan Rezqi ke Singapura mereKa benar-benar menghabiskan waktu bersama. Rahmi hanya ingin memberikan kenangan yang terindah untuk Rezqi. Kenangan yang mungkin tidak akan terulang lagi. Kenangan yang juga mungkin terakhir Rezqi rasakan. Mereka berdua benar-benar sadar akan hal itu. Tapi jauh di dalam lubuk hati Rahmi, ia berharap ini hanya sepenggal kenangan yang nantinya menjadi memori saat mereka menghadapi masa tua bersama.

Dari :Rommy Sigit Saputra

2 komentar: